Senin, 09 Oktober 2017

Pasir Kirisik Guranteng Tasikmalaya

di bawah payung (teduh)?

ehem

i love her







mantili dan patih gotawa... :D

BATIK

Hidupku tak pernah benar-benar bisa lepas dari batik. Bahkan sejak pertama kali jantungku berdetak, sebagian besar hidupku disokong dari batik.

Bapak adalah pengrajin batik. Tepatnya buruh batik, sejak jaman mudanya hingga kini, masih setia dengan penghidupan yang bersumber dari ketrampilannya ngecap batik. Membubuhkan malam di atas mori putih yang kelak akan disulap menjadi kain etnik penuh warna indah.

Saat aku masih sangat belia, aku pun diajak berkecimpung dalam dunia perbatikan. Sepulang sekolah, aku OJT di pabrik batik sebelah rumah, bekerja melepaskan karet dan tali rafia yang mengikat kain-kain batik untuk menghasilkan motif jumputan. Mereka menyebutku: mesin bubut 🤣🤣😅

Karena aku bertugas 'mbubuti' kain-kain yang sudah diwarnai itu hingga bersih dari segala karet dan tali yang mengikatnya. Upahnya lumayaaaan. Dari pekerjaan itu, tenaga kami dihargai 5 rupiah per lembar kain. Sehari aku bisa membersihkan 2-5 kodi kain. 

Malam minggu, saat yang lain bahagia karena diapelin pacar, akupun juga bahagia karena itulah saat 'blanjan'. Gajian. Satu minggu, aku bisa mendapat upah 2-3 ribu perak. Jumlah yang amat besar untuk anak SD kala itu.😍😍😍

Setelah agak besar dikit, usia SMP, aku OJT di perusahaan konveksi khusus menjahit sprei dan sarung bantal batik. Tugasku menjahit sprei. Upahnya 50 perak per seprei. Sehari minimal aku bisa menyelesaikan sekodi sprei.

Saat blanjan di hari Sabtu, minimal aku mengantongi upah 7 rb perak. Bandingkan dengan biaya SPP SMP saat itu yang hanya 5rb perak. Mestinya gajiku 'turah-turah' kalau hanya untuk membayar SPP. Nyatanya SPPku selalu nunggak. Karena setiap selesai gajian, uang itu dipinjam ibu buat nempur. Membeli beras untuk makan sekeluarga. 😅😅😅

Saat kuliah pun, beberapa kali ibu mengirimi sprei untuk dijual agar aku bisa menyambung hidup. Setelah bekerja, karena wajib berseragam batik 2 kali dalam satu minggu, membuatku sering mengunjungi toko batik. Dari sanalah awal mula CLBK-ku dengan batik. Saat di galeri, kukirimkan foto-foto batik itu ke teman-teman di grup. Mulailah satu per satu teman nitip memesan batik. Dari yang mulai pesan sepotong dua potong, hingga sekodi dua kodi. Baik untuk dipakai sendiri, maupun untuk dijual lagi.

Aku mah seneng seneng aja dipesenin batik. Membuatku sering berlama-lama di galeri batik. Menghirup harumnya malam yang menguar saat kucium dan menikmati sensasi ademnya kain batik saat kusentuhkan ke pipi. Memberikan ketenangan luar biasa. Menentramkan. Like at home.

Sampai kemudian, datang sebuah pesanan tak terduga. Sebuah instansi memesan 300 potong batik tulis kombinasi. Duuuh antara excited dan deg-degan ngumpul jadi satu. Mana hanya diberi waktu 2 minggu saja untuk menyelesaikan pesanan itu.

Kuhubungilah pengrajin batik langganan, beliau menyanggupinya. Walau akhirnya harus mundur 3hr dari kesepakatan, Alhamdulillah, pesanan itu akhirnya selesai. Dengan hasil di atas ekspektasiku maupun pemesan. Warna aslinya lebih cakeeeeeeep dari warna yang kukirim lewat foto. Pelayanan prima, kata pemesan padaku. Alhamdulillah wa syukurillah.

300 potong batik itu, pekan kemarin sudah mendarat manis di Pekanbaru sana. Dan bahkan beberapa sudah selesai proses penjahitannya. Hatur nuhun kepada semua pelanggan yang sudah mempercayakan pemesanannya. Dan akhirnya aku semakin sadar tak bisa benar-benar lepas dari batik 😘😘😘

No automatic alt text available.
pesanan seragam batik dari KANWIL Riau dan Kepri

NGENGER

Dalam budaya jawa, ngenger artinya hidup mengabdi pada salah satu orang sukses (majikan) atau keluarga yang sukses. Tujuannya, selain agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik (terjamin pangan, sandang, dan papan) juga agar kecipratan kesuksesan dr majikan/saudaranya itu.

Saya adalah salah satu pelaku ngenger di masa muda saya. Semi ngenger, tepatnya...
Selepas SMEA, dan diharapkan segera bekerja agar bisa membantu ekonomi orangtua, saya malah keterima di STAN.

Alih-alih buat menyokong hidup saya di rantau kelak, buat sehari-hari pun sudah sulit. Akhirnya dititipkanlah saya ke Pak Dhe. Kakak ibu yang tertua yang berdinas sebagai AURI dan tinggal di kompleks Trikora Halim Perdanakusuma.

Disanalah saya ngenger menjelang kuliah, saat libur akhir pekan dan libur kuliah.
Sebagai peserta ngenger, yang telah dicukupi kebutuhan dasar saya, tentu saya harus tahu diri dan bisa menempatkan diri.

Meringankan tugas-tugas Bu Dhe dan Pak Dhe sehari-hari. Mulai dari nyapu ngepel, nyetrika, dan sebagainya. Kalau masalah nyapu halaman sama nyetrika, cetek eta mah. Udah makanan sehari-hari *pamer

Masalahnya, saya ngga bisa ngepel 😣😣😣
Saat Bu Dhe menyuruh saya ngepel. Saya hanya bengong. Megang gagang pel saja blom pernah

Bukan karena anak pemalas yang tak pernah membantu orangtua. Tapi karena hidup di rumah bilik berlantai tanah, rumah saya tak perlu dipel. Sehari-hari cuma disapu doang. Jadilah saya tak tahu cara mengepel lantai dengan baik dan benar. Tapi saya kerjakan juga titah Bu Dhe saya itu. Dengan percaya diri, mulailah saya ngepel. 

Weeeeh... Koq lantainya jadi banjir? Oh ternyata meres lapnya kurang kenceng. Dan setelah dipel ulang lantai yang sebelum dipel udah kinclong (menurutku) bukan makin bersih, malah jadi buthek. Hiks...Sekali dua kali ngepel dengan hasil tak memuaskan. Tak membuat putus asa. Alah bisa karena biasa. Hahaaaay... Lama-lama saya gape juga ngepel lantai rumah Bu Dhe yang luasnya 10x rumah bapak saya ituh dengan hasil yang kinclooong 😍😍😍

Masalah kedua, saat Pak Dhe menyuruh saya mencuci mobil. Huwadeziiiig... Piye iki? Jangankan mobil, motor saja ngga punya. Saya hanya punya pit onthel. Lagi-lagi... Dengan percaya diri hooh aja nyuci mobil. Haaaaaa ternyata dari caranya nyemprotin air aja udah salah.
"Jangan gitu nyemprotnya, nanti cat-nya bisa cepet rusak. Begini cara nyemprot airnya. Yang lembut. Jangan kenceng2 airnya." Oooh baiklaaah. Lama kelamaan, lulus juga nyuci mobil 😍😍😍

Begitupun saat disuruh masak nasi pakai rice cooker. Heuheu. Biasa pakai dandang. Ini tinggal nyolokin. Bingung.
"Habis nyuci beras. Pancinya dilap dulu sampai kering, nduk. Sampingnya. Bawahnya. Harus bener-bener kering sebelum dimasukkan ke rice cooker. Kalau masih basah, nanti pas dicolokin akan bunyi 'plethok-plethok'" terang Bu Dhe saya. Yang ini mah belajar sekali langsung bisa. Alhamdulillah. 😅😅😅

Begitulah. Selama 3th di Jakarta, saya belajar banyak dari keluarga Pak Dhe dan Bu Dhe yang super disiplin, rumah selalu rapi dan bersih, serta hidupnya teratur.

Sampai saya kemudian bekerja, kemudian menikah, dan beranak pinak, Pak Dhe dan Bu Dhe masih tetap memberi perhatian lebih pada saya, pun tak pernah bosan memberi wejangan hidup. Dan saya sudah menganggap Pak Dhe dan Bu Dhe sebagai orangtua kedua saya setelah Bapak dan Ibu.

Kini, Pak Dhe telah tiada. Hari selasa lalu, hanya 3 hari sepulang beliau dari tanah suci, Allah memanggilnya kembali. Allahumaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa fu 'anhu
Semoga Allah lapangkan kuburnya, diterima semua amal ibadahnya dan diampuni dosa-dosanya.
Dan semoga, semua kebaikan Pak Dhe selama ini menjadi amal jariyah yang pahalanya tak terputus hingga akhir kelak.



Image may contain: 4 people, people smiling, people standing and outdoor
Pak Dhe berjaket hitam, saat berada di Masjidil Harom


Selasa, 18 Juli 2017

BLOG YANG BERDEBU

Entah berapa purnama blog ini sepi dari kunjungan huruf, titik dan koma. Seperti rumah penuh debu yang ditinggalkan penghuninya.

Tunggulah, aku akan kembali. Hari ini atau esok nanti...
Pokokna mah, sabar weeee... nanti juga aku akan menulis lagi...


Senin, 20 Februari 2017

BALON TERAKHIR



Hari Sabtu,18 Februari 2017 kemarin, Najwa berkesempatan mengikuti lomba baca puisi di acara Festival Sastra Aksara IV se-Priangan Timur yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia.

Selain lomba baca puisi, ada juga lomba mendongeng dalam bahasa sunda dan menulis surat untuk guru. Najwa hanya mengambil satu jenis lomba saja.

Dalam teknical meeting sepekan lalu, panitia sudah memberi tahu bahwa para peserta lomba harus memilih 2 diantara 7 puisi yang telah disiapkan oleh panitia.

Satu puisi dibacakan saat penyisihan, dan satu puisi lagi dibacakan bila masuk final. Penilaian lomba meliputi: penghayatan, ekspresi, artikulasi, intonasi, dan vokal.

Ada 10 finalis yang nanti akan dipilih oleh dewan juri. Dan para finalis wajib membacakan puisi yang berbeda dari puisi yang dibacakan saat penyisihan.

Ada 29 peserta lomba baca puisi dan 10 peserta mendongeng yang berasal dari Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Banjar, dan bahkan ada yang datang dari Bandung.

Satu demi satu peserta tampil. Dua peserta baca puisi, diseling dengan satu peserta mendongeng. Cukup lama waktu untuk menunggu giliran Najwa tampil. Dan ini membuat kami cukup dag dig dug.
Kualitas para peserta ini masya Allah. Bagus-bagus bingiiiit. Apalagi peserta mendongeng. Lucu-lucu. Kali ini, Najwa mendapatkan nomer undian ke-18 dan ini adalah pengalaman pertama Najwa mengikuti event besar. Bersaing dengan peserta yang punya kualitas di atas rata-rata.

Tantangan bagi saya adalah bagaimana menjaga mood Najwa agar tetap terjaga. Ini yang susyeeee. Bolak balik saya tawari dia minum hanya dibalas dengan gelengan kepala. Ditawari makan, geleng-geleng juga. Ngga napsu, katanya.

Berkali digenggamnya tanganku sambil berbisik :
“Mi, jantung Dede’ kayak mau copot...”
“Mi, capeeeek...”
“Mi, koq lama yaaa...”
menunggu...
Menjelang dhuhur, akhirnya tiba juga giliran Najwa tampil. Najwa membawakan puisi IQRA’. Alhamdulillah lancaaaar. Suaranya lantang, intonasinya tenang, dan artikulasinya jelas. *kata emaknya.

Selepas tampil, barulah najwa mau diajak makan. Lapeeeer katanya. Jadilah kami makan dan sholat dulu, sambil istirahat. Meredakan degup jantung yang sedari tadi mencolot-mencolot.

Selepas ISHOMA kami kembali ke aula, tempat lomba dilaksanakan. Masih ada beberapa peserta yang tampil. Hingga saatnya juri berdikusi untuk menentukan finalis. Perlu waktu agak lama menunggu dewan juri ini.

Panitia akhirnya masuk kembali bersama dewan juri ke dalam aula. Membawa 10 buah balon. Saya pikir balon itu untuk games. Ternyata? Balon-balon itu berisi kertas yang bertuliskan nama finalis.

Kupikir, panitia akan membacakan 10 peserta yang masuk final. Kemudian finalis dipanggil satu demi satu untuk tampil.  Ternyata? Pembawa acara akan meletuskan satu balon, membacakan nama finalis, dan finalis tersebut ke panggung untuk membacakan puisi pilihannya.

Setelah selesai satu finalis, panitia akan meletuskan satu balon lagi, membacakan nama finalis, dan finalis yang dipanggil maju untuk tampil. Begitu seterusnya sampai 10 balon habis.

Satu demi satu balon diletuskan. Satu demi satu finalis sudah menampilkan performanya. Tinggal satu balon dan Najwa belum terpanggil. Makin muleeees, Saudara-saudara. Hanya tinggal satu balon terakhir.

Pffff....Sekarang bukan cuma jantung kami yang mau copot, perut saya juga ikutan mules, dan lutut aye gemeteran.

Balon yang paling kecil berwarna biru itu akhirnya diletuskan, dan? Yup. Nomor 18 atas nama Najwa Kinana dipanggil ke depan. Najwa membaca puisi keduanya ini dengan tenang. Dia memilih puisi berjudul “Gadis Peminta-minta karya Toto Sudarto Bahtiar”

Dari 29 peserta, hanya Najwa satu-satunya yang mengambil puisi itu. Baik saat penyisihan maupun saat final. Kualitas Najwa saat tampil dalam babak final ini dibawah performanya saat latihan. Emosinya kurang gregeeeet. 

Wajaaar. Karena energinya sudah terkuras menahan degup jantung dari pagi hingga jelang ashar ini. Pun dia juga sudah sangat berusaha keras menjaga ketenangan.

Sebelum mengumumkan juaranya. Para juri satu demi satu mengevaluasi peserta lomba. Daaaan? satu yang dibahas oleh dewan juri adalah puisi Gadis Peminta-minta. Ada beberapa kelemahan, baik dari segi pemenggalan kata, intonasi, maupun penghayatan.

Bahkan satu juri menyempatkan diri membaca puisi itu. Waduuuuh. Berarti itu semua masukan juri buat Najwa seorang dong yaaaa, mengingat hanya Najwa yang membawakan puisi itu.

Makin lemeees dah ini lutut. Kuelus-elus kepala Najwa. “De’ gapapa kalau ngga dapet ya, De. Dede udah keren pokokna mah,” ucapku padanya.

Tibalah saat pengumuman. Setelah pemenang menulis surat untuk guru dan mendongeng satu per satu diumumkan, akhirnya dibacakan juga pengumuman untuk lomba baca puisi.

Alhamdulillah... Najwa juara 3. Fyuuuuh. Beneran lemeees badanku. Pengalaman pertama ini memang luar biasa. Mi proud you, Dede Najwa...


alhamdulillah
 
simboke ikut nampang :D

Kamis, 16 Februari 2017

PASSION

Najwa in action

 


bersama para finalis
alhamdulillah... juara 1 lomba membaca pusis se Kota Tasikmalaya untuk tingkat SD/MI





Selasa, 17 Januari 2017

PERTENGKARAN!!!




“PRAAANG!!!” suara kaca pecah membelah sunyinya malam. Disusul teriakan bersahutan. Terdengar jauh karena teredam tembok, tapi masih cukup jelas di telinga yang masih terjaga.
“Bag!Bug!Bag!Bug!!!” hantapan entah benda apa terkena apa menyusul kemudian. Ah! Pertengkaran lagi. 

“Bi... bi... bangun dong, Bi. Bi...mereka berantem tuh, Bi... Biii. Pisahin, Bi....,” kubangunkan suamiku saat tak kuat lagi mendengar kekerasan yang terdengar. Suami bangun tapi kemudian dia bengong. Aku selalu takut melihat dan mendengar orang bertengkar. Lutut rasanya tak bertulang. 

Jangan dipikir itu pertengkaran kami. No no no. Suamiku tak pernah menyentuh kulitku sedikitpun saat marah. Tak ada tonjok-tonjokan dan jambak-jambakan saat kami bertengkar. Jangankan pukulan, saling melotot pun tidak. Saling membentak pun tidak. 

Pertengkaran paling anarkis yang pernah saya lakukan adalah saat saya membanting pintu sekeras-kerasnya. Tapi saat pintu tertutup dengan suara kencang, saya malah njondil sendiri. Kaget! Paling brutal saya hanya sempat mencubitnya keras-keras saat gemeeezzzzz padanya. 

Suatu malam si Abi marah padaku karena suatu hal. Sepertinya dia agak murka. Aku pura-pura tidur. Semalaman beliau bolak balik kamar depan, kamar saya, kamar tamu. Entah sudah jalan kaki berapa kilo selama berjam-jam itu. Meredakan marahnya, mungkin. 

Pagi pun datang, usai sholat shubuh. Beliau menegurku. Tangannya gemetar memegang dada, mungkin menahan amarah. Suaranya juga bergetar, pandangannya berkaca-kaca. Dinasehatilah aku dengan suara pelan namun penuh tekanan. Aku beringsut memeluk lutut. Menangis di sana. Eng Ing Eng.

Setelah semua ganjalan dikeluarkan. Aku meminta maaf. Saling minta maaf. Berjanji untuk tak mengulang kesalahan yang sama. Berjanji untuk membuka lembaran baru, dan selesai berantemnya. Aku segera berkemas untuk berangkat ke kantor pagi itu. Trus gimana? Yaa sudah gitu doang. Serius? Dua rius *kasih lambang piss. Yaaaah ngga seru ik? Hahahaha.

Begitulah manajemen marah ala suami. Tak boleh ada anarkisme, tak boleh ada teriakan, dan setelah saling memaafkan,tak boleh ada kesalahan yang diungkit. Boleh dibicarakan, tapi nanti kalau sama-sama sudah tenang. 

Tak boleh marahan berlarut-larut, tak boleh diem-dieman melewati 2 waktu sholat. Dan setelah sholat saya cium tangannya (berarti sudah saling memaafkan), maka saya tak boleh lagi ngedumel tentang masalah yang terjadi. 
Kadang kesel sebenarnya. Dipaksa diam saat masih ingin ngomel. Rasanya seperti abis makan kuning telor tapi ngga boleh minum. Wkwkwkwk.Sereeeet. 

Inginku bisa puas menumpahkan semua ganjalan yang ada di dada. Tapi dia tak mengijinkan. Pokoknya diam dulu. Nanti dibicarakan lagi kalau sudah tenang. 
Yeee kalau sudah nanti mah ya lupa lagi apa yang mau diomelin. Trus ngga seru lagi. Masak udah damai-damai trus harus marang-marah lagi. Akhirnya masalah-masalah itu memang menguap begitu saja.

Dulu awalnya saya kesal dengan kebijakan ini. Tapi semakin lama, semakin terasa. Banyak manfaatnya berdiam diri saat marah. Waktu akan meredakan dan menyembuhkan kemarahan. Beliau selalu mengulang-ulang hadist ini saat sedang marahan:

Dari Ibnu Mas’ud RA Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang dikatakan paling kuat di antara kalian? Sahabat menjawab: yaitu di antara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda: “Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)

Dan setelah mendampinginya selama 14 tahun ini, saya menjadi saksi, bahwa beliau adalah orang yang sangat kuat. Pengendalian dirinya saat marah sungguh mengesankan. Mungkin kalau suamiku bukan doi, sudah kelar hidup guweh. Hag hag hag.

Yaa Robb... sangat berharap, 14 tahun kebersamaan ini tak hanya kekal di dunia. Tapi sampai kelak di Jannah-Nya. Aaamiin. Abi, maapin mi, yaaaa. Hatur nuhun atas segala kesabaran Abi selama ini. Heeee. Sudah gitu aja tulisan seminggu menjelang 14 tahun pernikahan ini. 





Ciamis, 17 Januari 2017
Desi Sulistiyawati Daliman
Sepekan jelang aniv ke-14 kita