Jumat, 15 Januari 2016

TALAK TIGA DENGAN RIBA (episode 2-Tamat)



 “Memburu berkah amatlah berat, tapi justru di dalamnyalah ada banyak rasa nikmat.” 
(Lapis-lapis Keberkahan - Salim A. Fillah)

Sepeninggal ibu, saya sempat berfikir bahwa hidup saya akan lebih ringan (secara finansial). Saya menyangka hidup saya akan baik-baik saja dan bisa tenang mengatur keuangan untuk rumah tangga. Nyatanya saya salah. Justru ujian demi ujian membuatku makin terpuruk dalam kubangan dosa riba.

Suatu kali, bisnis suami saya satu persatu ambruk. Distro yang dikelola oleh keponakan suami dan adik saya ngga jalan, jual beli motor mandeg, toko sembako merugi, bengkel bangkrut, usaha jus tutup, counter HP nyungsep.

Hingga akhirnya suami bermaksud menanamkan modalnya pada seorang teman yang katanya punya usaha rental mobil. Saat suami mengenalkan temannya itu sebenarnya instuisi saya sudah menolak. Saya sempat melarang suami agar tidak berbisnis dengannya. Tapi suami meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Yowis sebagai istri cuma bisa manut.

Kekhawatiran itu akhirnya terbukti. Bisnis rental itu hancur dan modal suami tak kembali. Bahkan teman suami itu pun raib. Padahal saat itu modal yang ditanam berasal dari pinjaman bank dan sebagian lagi uang titipan teman. Pinjaman bank bisalah dicicil setiap bulan, tapi titipan dari teman ini kan perlu dikembalikan.

Benarlah perkiraan saya, tak begitu lama teman suami yang menitipkan modal datang ingin mengambil uangnya. Padahal jumlahnya tak sedikit. Puluhan juta. Huhuhu. Akhirnya dengan sangat terpaksa saya top up lagi untuk mengembalikan uang titipan itu.

Semua modal bisnis suami habis tak bersisa, tinggal menyisakan hutang yang menggunung. Saat satu hutang KPR lunas, ternyata hutang yang lain bertambah. Saya benar-benar merasa terpuruk saat itu. Nyesek. Marah. Kesel. Kecewa.

Kenapa saya mau repot-repot menutup hutang suami, bukankah saya tak wajib? Benar. Tapi saya takut bila suami mendzolimi orang lain, ketidakberkahan akan berimbas pada rumah tangga kami, saya dan anak-anak.

Awal 2013 saya putuskan mengambil pinjaman KRETAP dengan jumlah maksimal untuk menutup seluruh hutang saya dan hutang suami. Hutang di tiga bank lunas, tinggal satu mega hutang KRETAP sejumlah 375 juta. *nangis darah.

Kupikir hidup akan tenang dengan satu lubang hutang saja. Ternyata yang ada hidupku jadi kosong. Saya menjalani hidup hanya untuk menunggu tanggal 1, menerima sisa gaji yang telah dipotong cicilan yang mencekik, untuk kemudian jungkir balik salto koprol mengatur uang agar bisa survive sampai tanggal 1 berikutnya. Ngga berkualitas banget hidup guweh. Serasa jadi robot. Hampa. Tanpa makna.

Saat itu sudah ada niat ingin menjual toko dan hasil penjualannya untuk menutup hutang. Tapi tekad itu belum bulat. Masih ada perasaan sayang, eman-eman, dll. Setahun ditawarkan, tak juga ada pembeli yang serius. Mungkin memang belum saatnya saya terbebas dari belitan riba. Pun penghasilan makin tahun makin tinggi. Nanti lama-lama juga cicilan itu tak akan terasa berat lagi, pikirku menghibur diri.

Hingga kemudian di tahun 2014 Allah berkenan memanggil saya memenuhi panggilanNya ke tanah suci. Saat-saat di Multazam, di Arofah, di Mina teringat hutang yang menggunung, teringat dosanya, teringat masa depan anak. Sepenuh hati memohon agar segera dibebaskan dari hutang riba yang sudah terbukti membuat sengsara.

Sekembalinya dari sana, saya bertekad bulat untuk melunasi hutang dengan menjual aset yang ada. Tak ada rasa eman-eman atau sayang. Mana saja yang duluan laku, rumah atau toko. Saya berniat semua hasil penjualan itu akan saya gunakan untuk menutup KRETAP ini. Andai tak bisa menutup semuanya, setidaknya meringankan cicilan.

Setahun lewat kemudian, tepatnya di bulan November 2015 akhirnya datang seorang pembeli. Proses tawar menawar toko ini tak mulus, alot, ada banyak kerikil, dan kendala. Transaksi ini nyaris batal dan saya pun sudah pasrah karena pembeli menawar jauh di bawah harga yang saya tetapkan.

Tapi saya tak putus asa. Kukirim pesan ke admin komunitas bebas riba (kobar), meminta doa dari teman-teman di komunitas itu agar urusan saya dipermudah. Tak lupa meminta doa dari ibu mertua agar toko itu segera laku. Karena sekali lagi, saya tak tahu dari lisan siapakah Allah berkenan mengabulkan doanya.

Suatu hari di minggu sore pembeli itu menghubungi kembali dan akhirnya toko saya pun terjual, walau diwarnai insiden makelar yang meminta komisi terlalu besar tak seperti perjanjian di awal. Hahahaa. Terserah deh, Oom. Semoga berkah deh ya.

toko yang terlepas dari genggaman. Tak mengapa. Asal Allah ridho
Esok harinya saya pergi ke B*I tempat saya memiliki mega hutang untuk melunasi KRETAP. Ternyata tidak bisa karena batas akhir pelunasan adalah tanggal 20 setiap bulannya. Saat menanyakan berapa jumlah yang harus saya lunasi, perinciannya sebagai berikut:
Sisa pokok hutang                           : Rp. 284.375.000,00
Rekalkulasi bunga (pinalty)             : Rp.   47.988.000,00
Total                                                 : Rp.  332.363.000,00

Huaaa Huaaa Huaaaa. Nyesek? Jelaaaaaas. Mana ada yang rela harus membayar pinalty puluhan juta begitu. Sementara aturan rekalkulasi itu tak ada saat saya mengajukan KRETAP. Tapi ya sudahlah. Bila itu jalan agar saya terbebas dari dosa riba. Bila itu jalan untuk menggapai ridho Allah.

Tanggal 2 Desember 2015 akhirnya saya kembali ke B*I setelah membuat janji dengan bagian KRETAP. Dan hari itu lunas sudah mega hutang itu. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah.

Bukan hal mudah. Sungguh bukan hal mudah membebaskan diri dari dosa yang satu ini. Godaanya sungguh ruuaaarrr biasa. Saat toko sudah terjual beberapa kawan memberi masukan:
“Sudah uangnya ditabungkan saja, cicilan mah jalani saja. Toh penghasilan kita cukup untuk nyicil.”
“Sudah lunasi sebagian saja, sisanya buat beli mobil.” *aaaaiiissssh sungguh menggoda
“Sudah sini uangnya saya puterin aja, tiap bulan saya kasih bagi hasil.” Jiwa serakahku pun bicara: Waaah enak ini. Tiap bulan dapat bagi hasil buat nyicil hutang dan uangku tetap utuh. Bisa diambil beberapa tahun lagi.

Andai tak ingat saya mewek-mewek sama Gusti Allah ingin dibebaskan dari siksaan hutang yang menyesakkan dada, bisa jadi saya akan tergoda. Untunglah saya ingat, tujuan melepaskan aset itu karena tak ingin lebih lama lagi berkubang riba. Cukup sudah 13 tahun  hidup dalam kegelapan. Kini hanya berharap hidup tenang penuh keberkahan. Itu saja. 


2 komentar:

  1. Balasan
    1. berharga banget buat saya, teh salimah...
      semoga kita semua segera terbebas dari hutang riba...

      Hapus